Teya Salat

Sejarah Valentine
Nama Hari Valentine diambil dari nama seorang pendeta dari Roma (Romawi) yaitu Santo Valentinus (Saint Valentine). Ia adalah seorang pendeta yang menjalankan tugasnya yakni menikahkan pasangan muda yang sedang jatuh cinta untuk membangun rumahtangga. Pada abad ke-3 waktu itu, kerajaan Romawi sedang gencar-gencarnya mempersiapkan peperangan dengan lawannya yang tidak lain adalah pasukan Muslim. Kaisar Claudius II yang saat itu memimpin kerajaan ingin membuat sebuah armada yang besar dan kuat agar menang dalam peperangan. Namun sifatnya yang kejam membuat ia dibenci oleh rakyatnya dan akhirnya ia pun menghalalkan segala cara agar bisa mengumpulkan kaum muda untuk dijadikan tentara. Ia pun tahu sebenarnya para pemuda tidak akan mau dijadikan tentara karena kebanyakan mereka tidak mau meninggalkan keluarga dan kekasih mereka untuk bergabung dalam tentara perang. Ketidaksediaan para pemuda untuk berperang ini tidak hanya karena tidak mau meninggalkan kekasih mereka yang tercinta tapi juga karena bulan itu bulan Februari yaitu bulan pernikahan. Dahulu pada tgl 14 Februari bangsa Romawi memperingati sbg hari penghormatan kepada Juno Februato (ratunya dewa dewi Romawi juga sering disebut dewi pernikahan) dan pada hari berikutnya tgl 15 Februari rakyat melakukan pesta 'Feast of Lupercalia' yaitu pesta dansa yang juga merupakan rangkaian upacara keagamaan bangsa Romawi setelah 2 hari sebelumnya digunakan untuk upacara persembahan pada dewi Juno Februato. Dahulu para wanita dilarang berhubungan dengan pria seperti layaknya zaman sekarang. Pada tanggal 14 Februari para gadis menuliskan nama mereka masing-masing pada sebuah kertas lalu memasukkannya pada sebuah gelas kaca dan kemudian pada tgl 15 Februari pada malam pesta, para pria mengambil satu gulungan kertas dan nama yang keluar akan menjadi teman dansanya satu malam. Biasanya dalam acara ini banyak yang saling cocok lalu kemudian setelah beberapa bulan saling mendalami mereka menikah. Karena para pemuda tidak mau bergabung dalam pasukan, kaisar Claudius tidak kehabisan akal. Ia menyuruh pegawainya untuk meniadakan pernikahan. Ia berpikir bahwa dengan melarang muda mudi untuk menikah maka para pemuda akan dengan senang hati masuk dalam pasukan perang. Sungguh tidak manusiawi. Melihat hal ini St. Valentine tidak menghiraukan larangan kaisar. Ia tetap menikahkan para pemuda meski dengan sembunyi-sembunyi. Suatu saat St.Valentine tertangkap sedang menikahkan sebuah pasangan. Ia kemudian diberi peringatan oleh sang kaisar untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi St.Valentine tetap menikahkan lagi sebuah pasangan di sebuah kapel kecil. Ia tertangkap basah saat itu. Pasangan itu berhasil kabur tapi St.Valentine tertangkap dan dibawa ke penjara lau divonis mati. Betapa malang nasibnya.
Sampai akhirnya tibalah hari di mana St.Valentine dihukum mati yaitu pada tanggal 14 Februari. Sebelum dieksekusi St.Valentine sempat menulis sebuah surat kepada putri sipir itu yang berisi ucapan terima kasih atas dukungan, bantuan, serta kepercayaanya. Di akhir surat itu tertulis "Dengan Cinta dari valentinmu". Surat itulah yang kemudian membuat orang fanatik kepada St.Valentine dan memperingati hari kematiannya sebagai hari duka cita juga hari tumbuhnya semangat cinta yang baru. Kemudian secara berangsur-angsur diperingati sebagai hari kasih sayang hari valentin.
|<Back to Home#